Langsung ke konten utama

PERJUANGAN SUCI NABI ISA AS SEBAGAIRASUL UNTUK BANI ISRAIL.

PERJUANGAN SUCI NABI ISA AS
SEBAGAIRASUL UNTUK BANI ISRAIL.
Saya mulai penulisan tulisan ini Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, semoga bermanfaat bagi bagi siapa-siapa yang membacanya.
Ditulis ulang dan diedit dari tulisan “The Passion of Jesus” serta ditambah referensi beberapa ayat baik Al Quran maupun Bible.
I.                    PEMAHAMAN BEBERAPA KALANGAN.
Berkenaan penyaliban Jesus (Isa a.s) berkembang beberapa pemahaman
1.       Umat Kristiani beranggapan bahwa Yesus wafat di tiang salib (karena ini sebagai gerbang untuk masuk kedalam Kristen dan ini inti ajaran penebusan dosa).
2.       Kaum Yahudi dahulu berkeinginan membunuh Yesus karena beliau dituduh sebagai hamba yang terkutuk.
3.       Sebagian besar Kaum Muslim  beranggapan bahwa Isa as (Yesus) dihindarkan dari hukum salib dan orang lainlah yang dikorbankan, dan kemudian Isa diselamatkan oleh Allah dengan diangkat kelangit dengan jasmaninya .(nampaknya ini pemahaman yang disusupkan kedalam Islam karena tidak ada satu ayatpun dalam Al Qur,an yang mengatakan Isa diangkat hidup-hidup kelangit dan akan turun kembali.
4.       Sebagian Kaum Muslim lagi berpendapat Isa as terselamatkan dari hukuman salib kemudian beliau pergi ke suatu tempat bersama dengan keluarganya dan kemudian hidup disana dan ahirnya wafat secara wafat yang biasa sebagaimana manusia pada umumnya.
Syekh Mahmoud Shaltout (Rektor Univ Al Azhar Cairo, Mesir) dengan mengutip Surat Al Maaidah ayat 117
$tB àMù=è% öNçlm; žwÎ) !$tB ÓÍ_s?ósDr& ÿ¾ÏmÎ/ Èbr& (#r߉ç6ôã$# ©!$# ’În1u‘ öNä3­/u‘ur 4 àMZä.ur öNÍköŽn=tã #Y‰‹Íky­ $¨B àMøBߊ öNÍkŽÏù ( $£Jn=sù ÓÍ_tGøŠ©ùuqs? |MYä. |MRr& |=‹Ï%§9$# öNÍköŽn=tã 4 |MRr&ur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« Íky­ ÇÊÊÐÈ  
Al Maaidah 117. aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya Yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan Aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.
 dimana pada ayat tersebut ada kata-kata “Falamma tawwaffaytaniy kunta anta raqibun ‘alaihim...(Maka tatkala engkau telah mewafatkan aku, engkaulah pengawas mereka....” Kata-kata tawwaffaytaniy dan merujuk kepada Surat Sajadah ayat 11 (Qul yatawaffaakum), Surat Annisa ayat 97 (Innalladzina yatawaffahumul malaaikatu), Surat Al Anfal ayat 50 (walau taraa idz yatawwaffalladzina kafaruulmalaaikatu), yang semuanya bermakna wafat (kematian), maka kata tawaffaitaniy dalam Surat Al Maaidah ayat 117 tersebut bermakna “kematian”. Berkenaan dengan kematian nabi ‘Isa alaihissalam juga ayat 55 Surat Ali ‘Imran  
øŒÎ) tA$s% ª!$# #Ó|¤ŠÏè»tƒ ’ÎoTÎ) š‹ÏjùuqtGãB y7ãèÏù#u‘ur ¥’n<Î) x8ãÎdgsÜãBur šÆÏB tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 ã@Ïã%y`ur tûïÏ%©!$# x8qãèt7¨?$# s-öqsù šúïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. 4’n<Î) ÏQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( ¢OèO ¥’n<Î) öNà6ãèÅ_ötB ãNà6ômr'sù öNä3oY÷t/ $yJŠÏù óOçFZä. Ïm‹Ïù tbqàÿÎ=tF÷‚s? ÇÎÎÈ  
Ali Imran 55. (ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, Sesungguhnya aku mewafatkanmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".
semuanya bermakna kematian secara wajar yang semua orang Arab dan yang faham bahasa Arab memahaminya sebagai kematian secara biasa, sehingga kalau diambil pengertian sesuai temanya maka harus difahami Isa telah wafat dan tak ada dalil yang menguatkan anggapan bahwa beliau masih hidup dan kematian belum terjadi pada beliau. Juga tak beralasan bila dikatakan bahwa kata wafat dalam ayat tersebut bermakna beliau mati nanti setelah turun dari langit yang menurut anggapan sebagian besar orang bahwa beliau dilangit sana masih hidup dengan jasadnya dan akan turun ke dunia menjelang hari kehancuran dunia ini. Ini jelas karena ayat tersebut berbicara mengenai hubungan beliau dengan kaum beliau ketika itu, bukan dengan kaum lain lain yang datang menjelang akhir zaman atau ahirnya dunia, dan bukan dengan mereka yang difahami sebagai umat Muhammad saw serta bukan kaum Nabi Isa (di masa datang).
Profesor HAMKA dalam Tafsis Al Azhar mengatakan: “Adapun ulama Indonesia yang menurut faham seperti demikian dan menyatakan pula faham itu dengan karangan ialah guru dan ayah hamba Dr Syaikh Abdul Karim Amrullah dalam bukunya Qaulush shohih pada tahun 1924, beliau menyatakan faham beliau bahwa Nabi Isa meninggal dunia menurut ajalnya dan diangkat derajad beliau di sisi Allah, jadi bukan tubuhnya yang dibawa ke langit.
Sayid Rasyid Ridha juga menguraikan pendapat-pendapat ahli tafsir tentang ayat tersebut  dan mengambil kesimpulan : “Tidak ada nash (redaksi) yang shohih (benar) dalam Al Qur’an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawanya ke langit dan hidup di sana...”
Juga kalau kita merujuk kepada  Surat Al Anbiiya ayat 34
$tBur $uZù=yèy_ 9Ž|³t6Ï9 `ÏiB šÎ=ö6s% t$ù#ã‚ø9$# ( û'ïÎ*sùr& ¨MÏiB ãNßgsù tbrà$Î#»sƒø:$# ÇÌÍÈ  
 Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal?
Tegas dikatakan bahwa manusia atau nabi nabi sebelum Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam sudah meninggal.
II.                    PENANGKAPAN DAN PENGADILAN NABI ISA as.
Yesus (‘Isa as) yang sudah mengetahui rencana diri beliau akan ditangkap dan menjelang penangkapan itu beliau bersama murid-muridnya pergi ke bukit GETSEMANI. Di sana beliau berdoa dengan penuh harap dan ratap dengan sangat pilu memohon keselamatan kepada Allah dari hukuman salib (kematian terkutuk) karena beliau dituduh sebagai hamba terkutuk.
“Maka sampailah Yesus bersama murid-muridnya kesuatu tempat yang bernama Getsemani ...Dan mulailah ia merasa sedih dan gentar. Lalu katanya kepada mereka, ‘Hatiku sedih seperti mau mati rasanya...Maka Ia maju sedikit lalu sujud dan berdoa, katanya, “Ya Bapaku jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan (kematian) ini lalu daripadaku, tetapi janganlah seperti yang aku kehendaki , melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Injil Mathius 36-39).
“Ia sangat ketakutan dan makin sungguh-sungguh berdoa; peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah’ (Injil Lukas 22:44).
Yesus (Isa as) menangis bukan karena takut, tapi karena menyesali apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi karena semata-mata kebencian dan persangkaan mereka kepada beliau dan hendak membuktikan bahwa beliau adalah seorang  pendusta dengan kematian terkutuk di tiang salib.
Kaum Yahudi yang dipelopori oleh ulama mereka, mengadukan Yesus (‘Isa) kepada Pilatus (Gubernur) agar ia menangkap Yesus (Isa as) dan mengadilinya. Akan tetapi sebenarnya Pilatus tidak mau untuk menangkap Yesus (‘Is as) dan berkata:
“Aku tidak mendapati kesalahan apapun padanya” (Injil Yohanes 18:38).
Mereka kecewa karena Pilatus membela Yesus (‘Isa) maka orang Yahudi mengancam akan mengadukan Pilatus kepada Kaesar (Raja) dan mereka berkata:
“Jika engkau membebaskan dia , engkau bukanlah sahabat Kaesar....” (Injil Yohanis 19:12). Pilatus merasa dan mengetahui bahwa Yesus (‘Isa as) bukanlah seorang biasa, dia adalah orang istimewa, terlebih lagi isteri Pilatus bermimpi bahwa  Yesus (‘Isa as) adalah orang yang benar sehingga ia berkata kepada suaminya:
“Jangan engkau mencampuri perkara orang yang benar itu, sebab  karena dia aku sangat menderita di dalam mimpi tadi malam” (Injil Mathius 27:19).
Ahirnya dengan  berat hati Pilatus tidak bisa menghindar dari desakan nafsu kaum Yahudi untuk membunuh Yesus (‘Isa as), Isa harus “disalibkan”. Pilantus mengambil air dan membasuh tangannya. Dihadapan orang banyak dan berkata,
“Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri” (Injil Mathius 27:23-24).
III.                  HAKIKAT HUKUM SALIB (SHALB)
Hukuman salib adalah hukuman yang terkenal dan umum digunakan oleh bangsa-bangsa tertentu zaman dahulu. Orang Romawi sebenarnya tidak pernah menggunakan hukum salib ini untuk bangsa mereka sendiri melainkan menerapkan  pada bangsa lain yaitu jajahan mereka untuk menghukum orang-orang yang dianggap memberontak kepada Kaesar.
Salib atau shalb berasal dari kata ash-shalibii yang berati “sum-sum” atau “lemak”. Dalam bahsa Arab ada istilah “Ashabush-shulubi“ artinya orang yang kerjaannya mengumpulkan tulang (al-izhaama) dan mengeluarkan sum-sumnya serta mencampurkannya.
Dalam Al Qur’an ada ayat yang mengatakan “Yakhruju min bainishulbhi wat taraaib” (keluar dari antara tulang belakang yang paling bawah dan tulang-tulang dada). (QS 86:7).
Jika kita meneliti asal dan makna kata yang terbentuk dari huruf “sho”, “lam” dan “ba” (sh, l dan b) maka artinya adalah tulang atau sum-sum.
Pelaksanaan hukuman shalb (salib) itu adalah pelaksanaan hukuman mati yang perlahan-lahan, dan biasanya memakan waktu sampai dengan 3 hari sampai ajalnya tiba. Terhukum akan dipaku kedua tangannya ditiang palang , dikarenakan berat tubuhnya maka si terhukum akan mengalami kesulitan bernafas karena terhimpit paru-parunya hingga ahirnya hal ini mempercepat kematiannya. Oleh karena itu, untuk menambah penderitaannya (memperlama proses kematian) maka pada telapak kaki diberikan sandaran papan di kakinya dipakukan pada papan tersebut sehingga dengan demikian terhukum dapat berdiri karena tubuhnya tersanggah. Terhukum akan dibiarkan menderita kehausan dan rasa sakit bahkan dibiarkan adanya gangguan dari mangsa hewan liar. Pamungkas dari proses kematian ini adalah dipatahkan tulang-tulang kakinya (shalb/ salib/patahkan tulang sampai mengeluarkan sum sum) yang akan mempercepat kematian. Inlah hukuman shalib (pematahan tulang-tulang/ mengeluarkan sumsum di pancang/ kayu palang). Dalam Al Qur’an ada digambarkan seperti dlm Surat Al Maaidah 33
$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/Í‘$ptä† ©!$# ¼ã&s!qß™u‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 Ó“÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã ÇÌÌÈ  
Al Maaidah 33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilangan, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,
 Jadi seseorang yang hanya mengalami pemakuan di kayu palang namun tidak sampai mematahkan tulang-tulangnya dan mengeluarkan sumsumnya tidak bisa dikatakan telah di hukum shalib.
Inilah arti dalam pelaksanaan hukuman shalib (salib), dan pada bagian selanjutnya dari tulisan ini kita bisa melihat apakah Yesus (‘Isa as) mengalami hukum shalib (salib) ataukah tidak.

IV.                  MISI RAHASIA PENYELAMATAN YESUS (‘ISA AS).
Pilatus secara rahasia menolong Yesus (‘Isa as) dengan menetapkan hari hukuman salib yaitu hari Jum’at siang jam 12 (Mathius 27:46), dan pada jam 3 sore (jam 15) Yesus (‘Isa as) diturunkan dari kayu palang dengan kondisi tampak “mati”. Seperti yang sudah lazim bahwa hukuman shalib adalah hukuman mati secara perlahan-lahan (umumnya 3 hari) dan belum pernah ada yang mati dalam hitungan jam. Lalu mengapa Yesus diturunkan padahal baru 3 jam (nampaknya tergesa-gesa)?
Jawabannya karena dalam Taurat ada tertulis:
“Maka jangan mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab orang yang digantung terkutuk oleh Allah, jangan engkau najiskan tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milik pusakamu” (Ulangan: 21:23).
Jadi dikarenakan menurut perhitungan hari Yahudi bahwa Hari Raya Sabath telah mulai sejak hari Jum’at petang (jam 18.00), setelah matahari tenggelam, maka tidak boleh ada najis (mayat orang terkutuk) yang menodai kesucian hari Sabath. Oleh karena itu haruslah tak boleh ada orang yang terpantek dikayu palang. Maka dari itu Orang Yahudi sendiri yang meminta Yesus (‘Isa as) diturunkan secepatnya dari kayu palang itu.
Perlu diketahui, bahwa bersamaan dengan Yesus (Isa as) disalib ada dua penjahat yang dihukum beserta beliau, namun kondisinya tidak seperti Yesus (‘Isa as), mereka masih tampak segar atau hidup, sehingga bagi mereka diperlakukan cara cepat untuk menghabisi nyawa mereka dan mereka dihukum salib (shalb) dengan mematahkan tulang-tulang kaki mereka (yang menyangga tubuh mereka). Sedang bagi Yesus (‘Isa as) karena pada saat akan diturunkan, beliau nampak terlihat mati, maka terhadap beliau tidak dilakukan hukum salib (shalb-pematahan tulang-tulang). Hal ini merupaka perwujudan dari ramalan suci (nubuatan):
“Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah” (Mazmur 34:21).
Sedangkan bagi prajurit Romawi alasan mereka tidak mematahkan tulang Yesus (‘Isa as) sebagaimana dua orang penjahat yang dihukum bersama beliau, karena mereka melihat jasad Yesus (‘Isa as) nampak seperti sudah mati.
“Melihat bahwa ia telah mati, mereka tidak mematahkan tulang kakinya” (Yohanes 19:33).
Perlu dicermati bahwa dasar yang menyatakan Yesus (‘Isa as) itu mati adalah hanya atas melihat, tidak mendekati apalagi meneliti atau memeriksa misalnya mengecek apakah denyut nadina masih ada atau tidak? Karena hanya sekadar melihat itu tidak pasti, dan inilah pangkal keragu-raguan orang Yahudi kelak bahwa mereka sendiri tak yakin bahwa dalam waktu tiga jam tersebut dan dengan tidak dihukum salib (shalb) mereka telah membunuh yesus (‘Isa as). Hal ini berhubungan dengan ucapan Yesus (‘Isa as) sebelum dihukum’
Ketika Yohanes berkata bahwa tentara itu melihat, bahwa maksudnya mereka menduga bahwa Yesus (‘Isa as) telah wafat. Jadi kita fahami inilah cara Allah swt menyelamatkan Yesus (‘Isa as) . Dengan menyerupakan beliau nampak seperti yang telah wafat dan hanya membiarkan tentara Romawi hanya melihat dan menduga-duga.  Allah swt menyelamatkan Yesus (‘Isa as) dalam kondisi pingsannya dengan menampakkan kepada tentara Romawi dan orang Yahudi bahwa mereka melihat Yesus (‘Isa as) seperti dalam kondisi mati. Karena itulah maka tentara Romawi tidak mematahkan tulang-tulangnya dan tidak mengeluarkan sumsumnya sebagaimana dua penjahat yang dihukum bersama beliau. Setelah tubuh Yesus (‘Isa as) diturunkan dari kayu palang , maka untuk memastikan bahwa beliau telah mati, seorang tentara Romawi menggoreskan lembingnya kesisi rusuk beliau dan setelah melihat tidak adanya respon berupa gerakan dari tubuh beliau maka tentara Romawi itu menyangka Yesus (‘Isa as) telah wafat. Namun....sebenarnya tidaklah demikian.(Baca Yohanes 19: 31-37)
“Hanyalah seorang laskar menikam rusuk Yesus dengan tombaknya, maka sekejap itu juga mengalir keluar darah dengan air” (Yahya 19:34).
Adalah rahmat Allah swt yang telah membuat tubuh manusia yaitu Yesus (‘Isa as) pingsan karena menahan rasa sakit dan letih. Seseorang yang berada dalam kondisi pingsan mengakibatkan peredaran darahnya menjadi lamban dan tidak lancar. Dengan adanya pelukaan akibat tikaman lembing tentara Romawi, membuat peredaran darahnya lancar kembali dan memancarkan darah keluar. Perlu diperhatikan bahwa darah mengalir hanya dapat terjadi pada tubuh yang jantungnya masih berdenyut alias masih hidup. Dan perlu diperhatikan bahwa kata “sekejap itu juga” menandakan bahwa darah memancar dengan cepat yang mana hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Yesus (‘Isa as) masih hidup ketika diturunkan dari tiang dan hanya pingsan (yang disangka oleh tentara Romawi telah mati). Dr WB Primrose, seorang ahli anastesi dari RS. ROYAL GLASGOW dalam tulisan beliau dalam harian “Thinker Digest” mengatakan:
“Bahwa air tersebut disebabkan oleh adanya gangguan syaraf pada pembuluh darah lokal akibat rangsangan yang berlebihan dari proses penghukuman ”. 
Perlu ditelusuri, bahwa selain karena rasa sakit apakah gerangan yang membuat Yesus (‘Isa as) pingsan dalam waktu yang singkat itu?
Beliau seorang nabi, maka Allah swt sangat pantas dan punya alasan menyelamatkannya dengan Rahmat dan karuniaNya.  Adalah Allah swt menjadikan beliau pingsan karena menahan sakit, perih, dan lelah dari hukum di atas tiang itu, namun disaat yang sama dua orang penjahat yang turut dihukum masih nampak siuman, lalu karena sebab apakah maka Yesus (‘Isa as) dalam waktu kurang dari 3 jam itu menjadi pingsan?
Jawabaan yang logis bisa kita lihat pada Yohanes 19: 29-30 yang tertulis:
“Disitu ada bekas penuh anggur asam (tertulis Vinegar, bukan wine). Maka mereka mencucukkan bunga karang yang telah dicelupkan dalam anggur asam pada sebatang hyssop (tanaman semak yang harum untuk obat) lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus . Sesudah Yesus meminum anggur asam berkatalah ia:”sudah selesai”, lalu ia menundukkan kepalanya dan menyerahkan nyawanya”.
Apakah venegar ini berpengaruh kepada Yesus (‘Isa as)?
Vinegar mempunyai efek stimulasi yang sementara sebagai obat amonia yang dicium bahkan dipakai untuk menstimulasi budak-budak, pengayuh perahu/ kapal. Memberikan anggur yang dibumbui dengan Myrrh atau kemenyan kepada orang yang akan dihukum mati sebagai usaha untuk menghilangkan rasa sakit  (mempunyai efek narkotika) adalah sesuai sekali dengan kebiasaan Yahudi, seperti yang tertulis:
“Dia yang dieksekusi diberi sedikit kemenyan dicampur anggur dalam piala sehingga dia kehilangan kesadaran” (Sahn 43-Kitab Talmud).
Pada saat menjelang penyaliban, serdadu Roma bukan saja membolehkan pemberian minuman narkotik ini, bahkan salah satu dari mereka terbukti membantu meminumkannya kepada Yesus (‘Isa as) seperti pada Matius:27:48, Markus 15:36, Lukas 23:36, Johanes 19:29.
Vinegar yang disebutkan dalam Al Kitab dalam bahasa latin disebut Acetum/Acere/Acida. Dalam budaya Persia dan Timur Tengah umumnya mengenal Minuman persembahan suci (Haoma Drink). Haoma Drink dibuat dari juice tanaman Asclepias acida . Efek minuman ini membuat orang koma (mati suri). Varietas Asclepias acida di Eropa disebut dengan “Swallowwort”. Untuk membuat Haoma Drink ini perlu keahlian khusus agar takarannya tepat dan orang-orang dari golongan Yahudi Essenes sangat mahir dalam bidang pengobatan/penyembuhan sangat mengenal ramuan minuman ini. (ingat bahwa mujizat Nabi Isa adalah berkenaan dengan penyembuhan dan pengobatan bahkan menghidupkan orang yg sudah mati atas izin Allah yang mengungguli keahlian masyarakat yang didatanginya) Salah satu efek dari ramuan Swallowort (Asclepias acida ) ini adalah extreme sweating and a dry muoth (mengeluarkan banyak peluh dan mulut mengering), dan ini sesuai dengan apa yang dialami oleh Yesus (‘Isa as):
“Yesus mengatakan : “saya haus” (Yohanes 19:28).
Jadi para murid rahasia Yesus (‘Isa as) dari golongan Essenes bekerja sama dengan Pilatus telah memberikan Haoma Drink kepada Yesus (‘Isa as) sebelum beliau dinaikkan ke tiang dan ini merupakan rencana rahasia untuk menolong Yesus (‘Isa as). Akibat dari ramuan inilah beliau menjadi koma/ mati suri di atas tiang salib.
Setelah kita mengetahui apa sebab Yesus (‘Isa as) mengalami pingsan yang demikian cepat dalam hitungan waktu 3 jam setelah dinaikkan ke atas tiang salib, sekarang kita kembali kepada keadaan tubuh beliau di atas tiang salib.
Meskipun Al Kitab satu dan lainnya menerangkan berbeda-beda, namun ada suatu kepastian yang terjadi bahwa ketika itu menjelang pukuk 15.00 (pukul 3) sore, terjadi gemuruh, guntur serta kilat dan gempa, langitpun kelihatan sangat gelap sekali. Hal ini merupakan kejadian luar biasa (mu’jizat) di mana Allah menampakkan gejala alam yang menakutkan sehingga membuat ciut nyali kaum Yahudi yang berpesta pora disekitar lokasi tiang salib, yang serta merta membuat hati mereka menjadi cemas dan takut akan kutukan Tuhan atas perbuatan mereka yang menganiaya seorang utusanNya, dan mereka berhamburan lari menyelamatkan diri.
Peristiwa ini pastilah bukan kebetulan dan ini adalah rencana Tuhan, yang karena itu, maka “murid rahasia” Yesus (‘Isa as), ( yang bukan 12 orang itu, karena mere lari semua kkarena takut), bisa mendekati tiang salib dan menurunkan dan mengurus jasad beliau. Mereka itu adalah Nikodemus, Yusuf Arimatea (mereka dari golongan Essenes) yang meminta jasad Yesus (‘Isa as) kepada Pilatus . Nikodemus, Yusuf Arimatea dan Maria Magdalena dan murid-murid rahasia lainnya dari golongan Essenes yang menolong dan mengurus jasad beliau  setlah diturunkan dari tiang salib  (Markus 15:47). Perlu diingat bahwa kondisi dan situasi saat itu amatlah genting karena jika orang Yahudi mengetahui bahwa Yesus (‘Isa as) masih hidup, maka akan mereka berusaha bunuh beliau sebagaimana yang menjadi tujuan mereka.
V.                   YUDAS SANG PENGHIANAT.
Sebagian orang mengira bahwa telah terjadi pensamaran wajah antara Yesus (‘Isa as) dengan Yudas Iscariot salah seorang murid beliau yang berhianat . Hal ini sangat menarik untuk di telaah bahwa apakah benar Allah swt telah merubah sedemikian rupa wajah Yudas sehingga sama dengan wajah Yesus (‘Isa as).
Kita dapat melakukan penelaahan dari beberapa sudut. Pertama dari keterangan Al Kitab, kedua dari Al Qur’an dan ke tiga dari sunnatullah.
Memang benar bahwa Yudas telah berkhianat kepada Yesus (;Isa as) dengan imbalan 30 keping perak untuk memberitahukan di mana keberadaan Yesus (‘Isa as), namun prlu diingat bahwa sejak ditangkapnya Yesus (‘Isa as) maka beliau selalu berada di dalam (ditengah) kawalan para tentara Romawi dan orang-orang Yahudi sejak penangkapan, pengadilan hingga eksekusi. Sehingga jika ada perubahan wajah (switch face) maka tentu akan ada kegemparan dikalangan mereka. Lagi pula tak ada keterangan dalam Al Kitab atau riwayat dari kalangan Israil bahwa Yesus yang ditangkap itu tidak berteriak-teriak mengatakan misalnya:
“Aku Yudas..., bukan Yesus...kalian salah tangkap” misalnya begitu. Tapi ini tak ada.
Bahkan mengenai Yudas paska hari eksekusi diriwayatkan bahwa dia sangat menyesali perbuatannya dan mati gantung diri...(Mathius 27:5). Mengenai riwayat yang konon berasal dari Injil Barnabas , maka hal inipun diragukan karena Barnabas sendiripun termasuk yang melarikan diri jauh-jauh dari Yesus (‘Isa as) saat peristiwa penangkapan itu terjadi.
Dari sudut sunatullah, setiap nabi mendapat ujian masing-masing yang khas dari Allah swt. Nabi Ibrahim di bakar kemudian Allah menyelamatkan beliau. Nabi Yusuf dibuang ke dalam sumur tapi beliau terselamatkan. Nabi Yunus di buang ke lautan dan ditelan ikan besar, tapi juga di selamatkan. Nabi Muhammad saw juga sudah terkepung dalam gua bahkan kaki para pengepungnya terlihat dari dalam gua, tapi kemudian Allah menyelamatkan beliau. Kesabaran para Nabi selalu mengundang pertolongan dari Allah swt dengan sunnatullah yang dapat difahami. Tidak pernah Allah menolong seseorang dengan menjadi orang lain sebagai korban, misalnya dalam hal ini wajah Yudas diserupakan dengan wajah Yesus (‘Isa as). Pertolongan Allah berjalan secara halus dan wajar yang kita fahami dengan istilah sunnatullah, setelah seseorang mengalami ujian, kesabaran dan keteguhan hati.
Dari sudut bahsa yang digunakan Allah dalam Al Qur’an bahwa perkataan “syubbhiha lahum” bukan berarti nabi ‘Isa as yang disamarkan (diganti) dengan orang lain, hal ini tidak tepat karena lafadz sebelum syubbiha tidak disebut nama seseorang yang telah diserupakan dengan Nabi ‘Isa as, padahal disini ada lafadz syubbiha yang bentuknya majhuwl dan dalamnya ada damir (kata ganti) mufrad yang mustatir. Menurut hukum nahwu damir itu harus terdahulu sebutannya dengan lafadz atau makna atau hukum. Dan apabila nabiul fa’il kata syubbiha disebutkan maka itu akan berarti bahwa Nabi Isalah yang diserupakan wajahnya dengan rupa orang lain, bukan orang lain yang diserupakan menjadi wajah nabi ‘Isa. Ringkasnyabukanlah rupa beliau disamarkan dengan orang lain, tapi keadaan (kondisi) beliaulah yang diserupakan/ disamarkan seolah-olah telah mati.
Ringkasnya, bahwa yang disalib adalah Yudas adalah tidak bersesuaian baik dengan Al Kitab, Al Qur’an, sunnatullah,  tata bahasa maupun sejarah. Dan jika riwayat ini diterapkan maka akan banyak kegelapan akan sejarah Yesus (‘Isa as). Oleh karena itulah maka orang-orang yang berpegang pada faham ini tidak dapat menemukan jawaban atau hal yang terang benderang mengenai riwayat “perjuangan” suci Nabi ‘Isa as dan argumentasi mereka senantiasa berakhir pada ucapan “Wallahu’alam”.
Selanjutnya bagaimanakah proses penyelamatan rahasia Nabi ‘Isa as oleh para murid beliau?
VI.                  OINTMENT OF JESUS (Marham/Salep ‘Isa).
Dengan amat menjaga kerahassiaan misi penyelamatan, Yusuf Arimatea dan Nikodemus juga Maria Magdalena membawa jasad Yesus (‘Isa as) yang telah dibungkus dengan kain kafan menuju ruang kubur (semacam gua) dan meletakkan beliau di sana serta menutup pintu kubur dengan batu.
Yusuf Arimatea dan Nikodemus adalah kaum Essenes yang terpelajar khususnya dibidang ilmu pengobatan.  Merekalah yang merawat dan mengolesi tubuh Yesus (‘Isa as) dengan salep obat untuk menyembuhkan luka-luka akibat hukuman. Mereka membawa banyak sekali (100 pound) rempah-rempah obat MYRR dan GAHARU untuk diurapi (dilulurkan) ketubuh Yesus yang terluka (Yohanes 19:39). Perlulah diperhatikan,  apalah gunanya rempah-rempah itu dibawa  untuk orang yang sudah wafat? Bagi seorang Yahudi yang sudah wafat adalah tidak boleh hkumnya diseentuh-sentuh apalagi dilulur. Menurut adat Yahudi, haruslah jenazah dikuburkan apa adanya. Namun para murid rahasia Yesus benar-benar mengetahui bahwa beliau masih hidup bahkan mreka sendiri yang menurunkan dari tiang salib, jadi hal ini memang menunjukkan telah dipersiapkannya suatu rencana rahasia oleh para sahabat (murid) rahasianya untuk menyelamatkan beliau.
Ointment of Jesus alias marham/salep ‘Isa sangat masyhur sekali, mengenai salep obat ini banyak sekali pustaka pengobatan kuno baik yang berbahasa Ibrani, Persia, Yunani dan Arab yang memuat perihal salep yang mempunyai efikasi (daya sembuh) atas luka ini , dan diakui bahwa riwayat salep ini adalah pada awalnya untuk mengobati luka-luka Yesus (‘Isa as). Mengenai Marham ‘Isa ini terdapat dikitab kuno Qanun karya Bapak Kedokteran Abu Sina (Aviciena) dan banyak lagi (bisa dilihat langsung di www.tombofjesus.cm/Ointment.htm).
Demikianlah jasad Yesus (‘Isa as) yang telah dilulur dengan obat rempah ditidurkan di dalam kubur (gua) dan berada dalam perawatan dari murid-murid rahasia beliau.

VII.                YESUS BANGKIT = TANDA YUNUS A.S.
Seperti kita ketahui bersama bahwa Yesus (‘Isa as) diturunkan dari tiang salib pada Jum’at petang dan diselamatkan serta dimasukkan ke dalam gua kubur oleh para murid-murid rahasia beliausekitar Jum’at malam (malam Sabtu), dan sejak itu mendapat perawatan secara rahasia dari para murid-murid beliau dari kaum Essenes.
Pada hari Minggu pagi Maria Magdalena berjalan sendirian menuju kubur gua Yesus (Markus 16:9 dan Yohanes 20:1). Untuk apa pagi-pagi sekali ketika hari masih gelap Maria Magdalena pergi sendirian ke kuburan?. Jawabannya untuk meluluri /meminyaki Yesus (‘Isa as)  (Markus 16:1). Meminyaki dalam bahasa Yahudi disebut “Massaha” artinya mengusap, memijati. Jika Yesus di percaya oleh Maria Magdalena telah wafat, lalu apa gunanya memijat atau mengusap mayat. Untuk apa dipijat jenazah yang tentunya sudah mulai mengalami proses pembusukan? Jadi hal ini membuktikan bahwa Yesus (‘Isa as) masih hidup yang diketahui sejak menurunkan tubuh beliau dari tiang, lantas dilulur dengan rempah-rempah dan kemudian Maria Magdalena pergi kesana untuk merawat dan mengobati Yesus (‘Isa as).
Ketika Maria Magdalena tiba di kuburan gua, dia terkejud karena melihat batu penutup pintu kubur telah bergeser (sehingga terbuka) dan di dalam gua kubur tubuh Yesus (‘Isa as) telah tiada. Orang Kristen percaya Yesus bangkit dari matinya. Perlu ditanya untuk apa roh yang bangkit dari matinya menggeser batu, karena bagi roh dia dapat bergerak melintasi materi apapun tanpa hambatan, jadi kenapa roh harus menggeser batu?Jadi inilah kesalahan orang Nasrani yang menganggap Yesus wafat di tiang salib (untuk menebus dosa) dan bangkit dari matinya. Yang sebenarnya adalah Yesus sembuh dan siuman serta bangun dan berjalan keluar kubur, sudah barang tentu sebagai manusia biasa dia harus menggeser batu untk bisa keluar dari gua kubur.
Perhatikanlah, peristiwa ini sebagai penggenapan atas apa yang telah dikatakan Yesus (‘Isa as) sebelumnya jauh sebelum peristiwa penghukuman itu. Mana kala orang-orang Yahudi tetap tak mau mengerti dan menerima misi kerasulan beliau dan orang-orang Yahudi itu tetap meminta tanda-tanda ajaib kepada Yesus (‘Isa as), Yesus menjawab:
“Apabila orang banyak datang berkerumun kepadanya, mulailah Yesus bertutur demikian: “Adapun bangsa ini ialah suatu bangsa yang jahat, ia menuntut suatu tanda ajaib, tetapi tiadalah akan diberi tanda lain padanya, melainkan tanda ajaib Nabi Yunus. Karena sama seperti Yunus menjadi suatu tanda ajaib kepada orang Ninewe, sedemikian juga anak manusia kepada bangsa ini”. (Lukas 11:29-30).
“Karena sama seperti Yunus di dalam perut ikan raya tiga malam lamanya, demikian anak manusia akan ada di dalam hati bumi tiga hari tiga malam lamanya”.(Matius 12:40).
Perlu sangat diperhatikan bahwa Yesus menyebut dirinya ANAK MANUSIA, jadi aneh yang dikatakan beliau anak Tuhan (putera Allah). Jadi bagi orang Yahudi tiada tanda ajaib yang akan diberikan kecuali tanda ajaib yang seperti mu’jizat Nabi Yunus. Bagaimana tanda ajaib Nabi Yunus itu? Seperti kta ketahui bahwa nabi Yunus diutus oleh Allah, dan seperti yang terdapat dalam riwayat Al Qur’an dan Al Kitab bahwa Nabi Yunus pergi dari kaumnya dan menumpangi sebuah kapal, ditengah Samudera datang badai dan orang-orang di kapal itu percaya bahwa untuk membuang sial maka harus ada satu orang yang dikorbankan dan dilempar ke laut. Setelah melewati proses pengundian Nabi Yunuslah yang harus dilemparkan ke laut dalam kondisi HIDUP. Di laut Nabi Yunus ditelan oleh ikan besar (paus) dan masuk ke dalam perut ikan secara utuh. Apakah beliau mati? Tidak! Karena di dalam perut ikan beliau berdoa. Apakah orang mati perlu berdoa agar selamat dari kematian? Tentu tidak.Setelah tiga hari tiga malam dalam perut ikan , maka ikan itu memuntahkan Nabi Yunus dari dalam perutnya. Apakah dalam keadaan mati? Tidak! Beliau tetap HIDUP, dan beliau menemui orang Ninewe dan mereka pun menerima Nabi Yunus.
Jadi perhatikanlah tanda ajaib nabi Yunus as beliau HIDUP ditelan oleh ikan dalam perut ikan dalam keadaan HIDUP dan dimuntahkan oleh ikan dalam keadaan HIDUP juga. Inilah tanda ajaib yang sama dengan Yesus, dimana beliau dihukum dalam keadaan HIDUP, kemudian dimasukkan ke dalam perut bumi, berada dalam perut bumi dalam keadaan HIDUP lantas beliau siuman lalu keluar dari gua kubur dalam keadaan tetap HIDUP.
Dan sebagaimana Nabi Yunus menemui umat beliau di Ninewe dan mereka menerima beliau, demikian juga Yesus (‘Isa as) menemui murid beliau dan mencari domba-domba (suku/tribes) Israil yang tersesat diluar kandang (pada saat Yesus lahir hanya ada 2 suku Israil yang tinggal di Yerusalem. Sedang 10 suku yang lain berada di negeri di luar Yerusalem). Mengenai ini akan dijelaskn pada bagian lain tulisan ini.
Sampai disini gugurlah modal orang 0rang yang mempercayai Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa-dosa dan bangkit lagi dari matinya, karena Yesus tidak pernah mati di salib dan bukan bangkit dari kematian, tapi siuman dari pingsan.
VIII.               MENEMUI MURID-MURID DAN MENUNJUKKAN LUKA-LUKA
Seperti telah dijelaskan, bahwa Maria Magdalena datang ke gua kuburan bermaksud untuk merawat Yesus (‘Isa as), dia terkejut melihat pintu batu gua kubur telah bergeser dan mendapati Yesus (‘Isa as) sudah tidak ada lagi di dalamnya.
Yesus (‘Isa as) tak pergi kemana-mana ia masih ada disekitar pekuburan itu juga (dengan menyamar sebagai tukang kebun) dan melihat Maria Magdalena yang sedang nampak kebingungan, beliau menghampiri dari belakang dan berkata:
“Ibu mengapa engkau menangis, siapa yang engkau cari?” (Yohanes 20:15).
Maria tidak mengenal Yesus (‘Isa as) yang menyamar itu.
“Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepadanya” (Yohanen 20:15)
Mengapa Yesus (‘Isa as) harus menyamar? Karena beliau mengetahui kalau sampai orang Yahudi mengetahui keberadaannya maka mereka akan mengkapnya kembali dan tentu mencoba membunuhnya lagi. Bagi seorang yang telah mati untuk apa takut mati lagi? Inilah alasan yang sngat logis bahwa Yesus (‘Isa as) memang tidak mati terbunuh di tiang salib, dan belum wafat.
Yesus sendiri mengatakan bahwa bagi seseorang hanya akan mengalami mati satu kali.
“dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27).
Maria masih tidak mengenal Yesus sampai Yesus menyebut namanya, barulah ia mengenal (dari cara Yesus biasa memanggil namanya) bahwa “tukang kebun” itu adalah gurunya, gembiralah dia dan langsung ingin memeluk gurunya. Namun Yesus (‘Isa as) berkata:
“Janganlah engkau memegang aku” (Yohanes 20:17).
Kenapa Maria Magdalena tak boleh menyentuhnya? Pertama karena tubuh Yesus meskipun sudah pulih mungkin saja masih nyeri, dan kedua beliau tidak mau kalau-kalau ada orang melihatnya, terutama dari orang Yahudi yang mengetahui penyamarannya. Dan Yesus (‘Isa as) menjelaskan kepada Maria bahwa beliau bukanlah hantu atau ruh namun beliau masih manusia yang hidup, beliau berkata:
“Sebab aku belum pergi kepada Bapa” (Yohanes 20:17).
Maksud Yesus (‘Isa as) tak lain adalah “saya belum wafat, saya belum ke alam baqa”, atau “saya masih hidup”.
Lalu Yesus (‘Isa as) pergi dan di tengah perjalanan beliau bertemu dengan dua orang muridnya yang sedang menuju Emmaus. Dihampirinya mereka kemudia mereka berjalan bersam-sama sambil bercakap-cakap. Selama perjalanan kedua murid Yesus ini tidak mengenali beliau, sampai ketika mereka makan bersama dimana kedua murid Yesus ini mengajak beliau untuk turut serta makan bersama.
“Waktu ia duduk makan dengan mereka, ia mengambil roti, mengucapkan berkat, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikan kepada mereka” (Lukas 24:30).
Dari cara Yesus (‘Isa as) berdoa, mengucapkan berkat dan membagikan makanan barulah tersadar kedua murid Yesus (‘Isa as) itu mengetahui bahwa orang yang bersama dengan mereka adalah guru mereka, namun namun manakala mereka menyadari hal ini Yesus (‘Isa as) telah berlalu dan pergi meninggalkan mereka.
Kedua murid Yesus ini menceritakannya kepada murid-murid beliau yang lain, namun tentunya tak seorangpun diantara mereka yang percaya, karena sepengetahuan mereka bahwa guru mereka yaitu Yesus (‘Isa as) telah wafat (perlu diingat, sebagaimana diceritakan sebelumnya bahwa murid-murid beliau tak ada seorangpun yang hadir ketika tubuh beliau diturunkan oleh tiga murid yang setia yaitu Nikodemus, Yusuf Arimatea yang orang Essenes itu dan Maria Magdalena).
“Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tak percaya” (Markus 16:13).
Singkat cerita, maka kemudia Yesus (‘Isa as) menemui murid-murid beliau,
“Datanglah Yesus dan berdiri ditengah-tengah mereka” (Yohanes 20:19).
Kaum Kristiani peraya bahwa Yesus muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah murid-muridnya (seperti awak film star trek). Kenapa mereka mempercayai hal ini? Karena umat Kristiani mempercayai bahwa Yesus bukan manusia dan bisa melakukan hal-hal ajaib. Padahal ini tidak benar, kata “datanglah...” dalam ayat di atas menunjukkan bahwa Yesus (‘Isa as) tidak muncul tib a-tiba, layaknya sperti kita mengatakan “ayah datang...”.Apakah ayah muncul tiba-tiba seperti star trek? Yang benar, anda melihat atah anda datang berjalan menghampiri anda.
Namun oleh karena khabar yang mereka dengan selama ini bahwa Yesus telah wafat, maka mereka tetap menunjukkan ekspresi wajah terkejut dan takut, oleh karena itu Yesus (‘Isa as)  berkata kepada mereka:
“Kata Yesus kepada mereka, “damai sejahtera bagi kamutetapi mereka terkejut dan takut” (Lukas 24:36-37)
Lihatlah bagaimana berbedanya reaksi Maria Magdalena dengan murid-murid Yesus (‘Isa as) yang lain ketika melihat gurunya. Kenapa?  Maria bergembira melihat gurunya karena sedari awal Maria mengetahui baahwa gurunya belum wafat dan ia setia merawat sang guru. Sedang para murid-murid yang lainnya mendengar kabar bahwa guru mereka telah wafat di salib, karena mereka meninggalkan gurunya ketika masih di atas tiang salib, bahkan sekarang mereka menyangka Yesus (‘Isa as) sebagai hantu/ roh,
“mereka terkejut dan takut menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Lukas 24:37).
Melihat para murid beliau nampak pucat ketakutan, maka beliaupun menjelaskan bahwa beliau bukanlah hantu, tapi manusia yang terdiri dari darah, daging dan tulang, bahkan beliau menunjukkan dan menyuruh murid beliau untuk menyentuh bagian-bagian tubuh beliau yang terdapat bekas luka.
“Lalu Yesus bertanya kepada mereka itu: ‘Apakah sebenya kamu terkejut? Dan apakah timbul wasangka di dalam hati kamu? Tengoklah tanganku dan kakiku, inilah aku sendiri. Jamaklah aku, dan lihatlah, karena hantu tiada berdaging dan tulang seperti yang kamu lihat ada padaku”.
“Setelah ia berkata demikian , ditunjukkannya kepada mereka itu tangan dan kakinya” (Lukas 24:38-40).
“Lalu iapun bersabda kepada Toma: “Ulurkan jarimu, lihatlah tanganku, dan ulurkanlah tanganmu serta letakkan dirusukku, dan jangan engka sya, melainkan yakinlah” (Yahya 20:27).
Demikianlah Nabi Suci ‘Isa as telah menemui para murid-muridnya dan menjelaskan kepada mereka bahwa beliau hidup dan telah lolos dari kematian terkutuk di tiang salib. Allahu Akbar...Allah Maha kuasa menolong Utusan dan hambaaNya...!!!
Meskipun demikian kondisi beliau belumlah sepenuhnya aman, karena jika keberadaan beliau diketahui oleh orang Yahudi maka tentu mereka akan mencoba membunuh beliau lagi. Lalu bagaimana kisah perjuangan suci beliau a.s dalam melaksakan misi kerasulan beliau selanjutnya?
IX.                  KEMANAKAN DOMBA-DOMBA IRSAIL YANG HILANG ?
Sebelum kita lanjutkan perjalanan kita menapaktilasi perjuangan suci Naullah ‘Isa as, mari kita kembali mengingat kepada siapa Allah mengutus ‘Isa as.
Dalam Al qur’an Surat Ali ‘Imran ,  Allah berfirman  :
 ”Dia telah mengajarkan kepadanya (‘Isa as) Al kitab, Al hikmah, Taurat dan Injil (ayat 48) dan dia sebagai rasul kepada Bani Israail........”(ayat 49).
“Dan ( ingatlah ) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israail sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian “(Bangsa Yahudi).
Seperti yang dikisahkan dalam Al Qur’an bahwa Bangsa Israil terdiri dari 12 suku, dan hanya untuk 12 suku (domba) Israil inilah beliau diutus, dan tidak untuk semua Bangsa (kaum). Jadi alangkah aneh kalau ada yang meyakini bahwa Nabi ‘Isa a.s. sebagai nabi untuk Bangsa Israil akan turun kembali pada ahir zaman untuk semua umat manusia.
“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil” (Matius 15:5-6).
Mengapa Yesus (‘Isa as) menyebut domba-domba Israil yang “hilang”? Nampaknya ini memang kata yang penuh makna. Jadi haaruslah kita buka kembali lembaran sejarah dan arkeologis bangsa Yahudi. Tanpa berpandukan kepada pakta sejarah maka kita akan salah memahami dan tersesat dengan sendirinya.
X.                   SEJARAH BANGSA ISRAIL.
Kerajaan Israil berdiri tahun 1020 SM, dipimpin oleh raja-rajanya yaitu:
1.       SAUL (1020-1000 SM)
2.       DAUD /DAVID (1000-961 SM)
3.       SULAIMAN/SOLOMON (961-922 SM)
Namun sejak sepeninggalan Nabi Sulauman a.s. kerajaan Israil terpecah menjadi dua yaitu Israil Utara (Samaria) dan kerajaan Israil Selatan (Yudea-Yerusalem).
Kerajaan Israil Utara terdiri dari 10 suku Israil yaitu:
1.       RUBEN
2.       SIMEON
3.       LEWI
4.       ISAKHAR
5.       ZEBULON
6.       DAN
7.       YUSUF
8.       NAFTALI
9.       GAD
10.    ASYER
Dipimpin oleh raja pertamanya yaitu JEROBEAM (922 SM- 901 SM), sedang raja terahirnya yaitu HOSEA (732 SM-724 SM).
Kerajaan Israil Selatan (Yerusalem) terdiri dari 2 suku, yaitu:
1.       YEHUDA
2.       BENJAMIN
Dipimpin oleh raja pertamanya REHOBEAM (922 SM – 915 SM) sedang raja terahirnya yaitu ZEDEKIA (597 SM-587 SM).
Pada tahun 721 SM kerajaan Assyiria yang saat itu dipimpin oleh Raja Shalmanesar menyerbu dan menaklukkan kerajaan Israil Utara yang saat itu dipimpin oleh Raja Hosea (raja terahir Israil Utara). Oleh Raja Assyiria ke 10 suku Israil yang tinggal di tawan dan dibawa keluar dari tanah air mereka menuju Assyria. Diceritakan dalam kiab Nabi Edras (Nabi Idris a.s) bahwa 10 suku Israil ini melarikan diri dari Assyria namun tidak menuju ke tanah air mereka namun bermigrasi ke Timur Jauh kesuatu negeri yang bernama Asareth (Nazara atau Azara).Sehingga sejak tahun 721 SM di Samaria sudah tidak ada terdapat satupun suku Israil.
Pada tahun 603 SM dominasi kekuatan Assyiria direbut oleh kerajaan Babylonia. Dan pada tahun 587 SM Yerusalem dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar. Dan seperti Raja Assyria , Raja Nebukadnezar pun menawan dan membawa keluar 2 suku Bani Israil yang ada di Yerusalem ke Babylonia, Media (Persia), dan Ghaur (kawasan pegunungan Afganistan).
Dan pada periode 538 SM – 332 SM kekuatan Babylonia direbut oleh Kerajaan Persia oleh Raja Cyrus dan pada era tersebut kedua suku Bani Israil kembali menuju tanah air mereka di Yerusalem.
Dari fakta sejarah ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya ada dua domba yang tinggal di kandang, sementara sepuluh domba Israil lainnya tersebar di negeri-negeri Timur sepanjang Syam (Syria), Persia, Afganistan, Kasymir (Hindustan Utara), bahkan hingga Tibet (perbatasan Cina).
Sekarang dapatlah kiranya pembaca merenungkan kembali misi kerasulan Yesus (‘Isa as) bahwa beliau ditugaskan untuk seluruh 12 Suku Israil. Sedangkan kita mengetahui bahwa sejak beliau lahr sampai beliau dihukum di diang salib beliau selalu berada di Yerusalem (Israil). Itu artinya bahwa selama periode tersebut Nabi ‘Isa as baru menyampaikan risalah kepada 2 suku Bani Israil saja . Lalu jika beliau naik ke langit bagaimana bisa beliau merampungkan tugas kerasuklan kepada 12 suku Bani Israil tsb. Bagaimana beliau mempertanggungjawabkan dihadapan Allah. Apakah Allah akan membiarkan 10 suku Israil lantas yang lain tanpa bimbingan Nabinya selama 2.000 tahun lebih?
Jadi inilah misteri fakta sejarah yang selama ini ditutup-tutupi, demi menyebarkan pemahaman bahwa ‘Isa a.s naik ke langit, untuk mendukung faham bahwa Yesus anak Allah yang naik ke sorga. Namun di sisi laih hal ini membuktikan bahwa ‘Isa a.s memang pergi secara diam-diam meninggalkan Yerusalem untuk mencari domba-domba Israil yang ada di negeri-negeri Timur.
XI.                  JEJAK BANGSA ISRAIL DI NEGERI-NEGERI TIMUR(SEBAGAI SUATU FAKTA SEJARAH)
 Dalam Matius 2:2, dikatakan bahwa bintang yang menjadi tanda kelahiran Yesus (‘Isa as) nampak di Timur, dan orang-orang Bijak dari negeri-negeri Timur yang mengerti kan tanda bintang ini melakukan perjalanan jauh ke arah bintang di Barat di mana terdapat negeri kelahiran Yesus (‘Isa as)  (Nazareth). Orang-orang dari negeri Timur manakah yang mengerti Israil yang menetap di negeri-negeri timur? Hanya orang-orang Israillah yang mengerti dan menunggu-nunggu tanda-tanda yang ada dalam nubuatan Israil. Jadi hal ini sendiri sudah membuktikan bahwa bintang tanda kelahiran seorang nabi Israil juga nampak dan ditampakkan oleh Allah kepada bangsa-bangsa Israil yang berada di negeri timur nun jauh.
Beberapa Bangsa Timur yang mana terdapat jejak bangsa Israil antara lain:
A.       Bangsa Chazar.
Berdasarkan penelitian arkeologi bangsa ini terbentuk dari asimilasi suku asli setempat yaitu suku Turki Kuno dengan suku pendatang yaitu Yahudi. Suku ini menempati kawasan di Asia Barat.
B.       Bangsa Afgan
Kesaksian sejarah dari Kitab Sejarah Islam antara lain:
Dalam kitab Tabqat e Nasri yang mencantumkan penaklukan Afganistan oleng Jengis Khan, di dalamnya tertulis bahwa pada zaman Dinasti Syabnisi, di sana tinggal suatu kaum yang disebut Bani Israil, sebagian dari mereka adalah saudagar. Orang-orang ini pada tahun 622 M (pada zaman Rasulullah Muhammad saw) menetap di kawasan Herat. Sahabat Khalid ibnu Khalid ra datang menemui mereka dan menyeru mereka kepada Islam. Lima atau enam kepala suku mereka ikut serta sedang Khalid menemui Rasulullah Muhammad saw, diantar kepada suku tersebut adalah Qes (Kish/Kisy). Orang-orang ini ahirnya menerima Islam dan ikut bertempur bersama Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw memberi nama baru kepada Qes yaitu Abdurrasyid dan memberikan nama julukan dengan nama dari Ibrani yaitu Pathan.
Dalam kitab Majma’ul Ansab, MULLA Khuda Dad menulis, bahwa putra sulung Yakub adalah Yehuda, putra Yehuda adalah Usrak, Putra Usrak adalah Aknur, putra Aknur adalah Ma’alib, putra Ma’alib adalah Farlai, putra Farlai adalah Qes, putra Qes adalah Thalut, putra Thalut adalah Armea dan putra Armea adalah Afgan dan anak keturunan Afgan adalah Bangsa Afgan. Afgan hidup sezaman dengan Nebukadnezar. Generasi keturunan ke 34 dari Afgan (Termuat dalam buku A Nature of Visit to Ghazni , Kabul, and Afganistan, by G.T. Vigne: 1840).
Dalam kitab sejarah Makhzan e Afghani oleh Khawaja Ni’matullah Herati yang ditulis pada tahun 1018 Hijriah, yang diterjemahkan oleh Prof Bernhard Doran dari Kharqui University, terbitan London tahun 1836, kita dapati bahwa Bangs Afgan bernenek moyang kepada Israil yaitu kepada Raja Thalut (Saul) dari putra Armea (Armiya). Ditulis pula bahwa Nebukadnezar telah membuang bangsa Bani Israil ini ke kawasan pegunungan di Ghaur, Ghazni, Kabul, Khandar (Khandahar), dan Koh Firoz.
Kesaksian sejarah dari Peneliti Sejarah lain:
Rabi Ben Yamin dari Toledo (Spanyol) yang pada abad ke 12 melakukan ekspedisi pencarian suku-suku Israil yang hilang, dia menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah menetap di Cina, Iran dan Tibet.
Josephus yang menulis sejarah kuno orang Yahudi pada tahun 93 M dalam jilid 11 bukunyamenjelaskan tentang kaum Yahudi yang kembali dari penawanan bersama Nabi Ezra. Dia menjelaskan bahwa 10 suku sampai saat ini berdiam di seberang timur sungai Euphrat (Persia), dan jumlah mereka sangat banyak. Santo Jerome yang hidup pada abad 5 M menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Hosea 10 suku Bani Israil masih berada sebagai tawanan Raja Pathryia.
Count Juan Steram menulis bahwa orang-orang Afghan mengaku bahwa Nebukadnezar membuang mereka ke kawasan Ghaur (Afghanistan) setelah kejatuhan Yerusalem.
Dalam buku History of Afghanistan oleh L.P. Ferrier yang diterjemahkan oleh Capt.W.M. Jasse, terbitan London 1858 tertulis riwayat bahwa ketika Nadir Syah tiba di Peshawar untuk menaklukkan Hindustan, maka para tokoh suku Yusuf Zai menghadiahkan kepadanya sebuah Bibel yang bertuliskan bahasa Ibrani dan juga beberapa barang perabotan dari suku mereka yang dipergunakan untuk menjalankan ritual agama kuno mereka. Ikut dalam perkemahan Nadir Syah beberapa orang Yahudi, manakala Nadir Syah memperlihatkan barang-barang tersebut kepada orang Yahudi maka seketika itu pula mereka mengenali barang-barang tersebut sebagai barang orang Yahudi. Singkatnya, fakta dari kitab-kitab sejarah, arkeologi dan anthropologi telah membuktikan dengan jelas bahwa Bangsa-Bangsa yang menempati kawasan Afghanistan adalah berasal dari Bani israil. Bahkan orang Afghan sendiri mengakui bahwa meraka adalah Bane (Bani) Israil.
Suku-suku Bani Israil di Afghanistan sekarang telah memeluk agama Islam namun mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai Bani Israil (keturunan Israil) dari anak keturunan Kish, keturunan Raja Saul (Tholut).
Beberapa tradisi Bangsa Pathan yang sama dengan tradisi Israil yaitu mereka menyunat anak pada umur 8 hari, berpakaian model Tizzit, menyalakan lilin pada Jum’at malam, bangsa pria pashun bertradisi menikahi janda kaka ipar yang belum memiliki anak (sama seperti Israil, Ulangan25:5-6).
C.       Bangsa Kasymir (India Utara).
Kashmir terletak di India Utara dan Barat Nepal. Meski demikian, penampilan fisik merka berbeda dengan orang India pada umumnya. Orang Kashmir pun menganggap diri mereka sebagai Bane Israil (Keturunan Israil). Daerah-darah di Kahsmir pun diberi nama sama atau mirip dengan nama-nama daerah di Tanah Air mereka di Israil.
NAMA TEMPAT-TEMPAT DI KASHMIR
NAMA TEMPAT-TEMPAT DI ISRAIL
Kabul
Kabul
Punisia
Punch
Zaidan
Zaida
Himas
Hamasy
Golgota
Gilget
Tibet
Tibet
Lasya
Lhasa
Laddha
Leddha
Syur
Suret
Sihi
Skit

Bahkan kata Kasymir itu sendiri berasal dari “Ka” (seperti/mirip) “seir” adalah salah satu kota di Israil. Ingat juga dalam Al Kitab dikatakan bahwa Musa muncul dari Tursina dan ‘Isa muncul dari Seir. Orang Ksymir menghormati hari Sabath, menyunat anak pada  umur 8 hari dan merayakan beberapa Hari Raya Israil.
Dr. Bernier dalam bukunya Travel in The Empire menulis:
 “Yakni tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Kashmir adalah Bani Israil. Dan pakaian mereka, wajah mereka serta beberapa tradisi mereka secara telak menyatakan bahwa mereka berasal dari rumpun keluarga Bani Israil”.
Dalam buku Dictionary of Geography oleh A.K. Johnson pada  halaman 250, tentang kata Kashmir tertulis: “Penduduknya berpostur tinggi, kekar, gagah, Dan kaum wanitanya manis, cantik, berhidung bengkok, rupa dan penampilan mereka betul-betul menyerupai orang-orang Yahudi (Tidak menyerupai orang Hindustan pada umumnya).
Peneliti Perancis Bumear menulis dalam jurnal erjalanannya: “Setelah turun naik mendaki pegunungan Pire Panjale dan menginjak daerah Kashmir, yang teristimewa mengagetkan saya ialah persamaan penduduk negeri itu dengan orang Yahudi”
Sir Walter Lawrence 1895 p 315 dalam buku The Valley of Kashmir menulis: “Kebanyakan roman muka mereka sebagai Ibrani”
Orang Kashmir gemar sekali kepada naman-nama yang ada hubungannya dengan Palestina. Misalnya Musachail (Partai Musa), Tachte Sulaiman (Kerajaan Sulaiman), Yusuf Zei (Kerabat Yusuf) dll.
D.       Bangsa Shin Lung (Bene Menashe).
Bangsa ini menempati perbatasan India dan Myanmar.Memiliki tradisi penyembelihan hewan korban seperti suku-suku Israil kuno dan menyebut diri sebagai Bene Menashe. Memiliki cerita turun temurun bahwa nenek moyang mereka berasal dari negeri di barat yang kemudian bermigrasi ke timur jauh dan berasimilisi dengan suku bangsa Cina. Mereka yakin bahwa mereka bukan orang Cina. Mereka menyebut diri sebagai Lusi (10 suku). Tradisi Menashe adalah: Sunat, upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari,  hari keagamaan yang mirip Yahudi, pernikahan ipar, menyebut Tuhan mereka dengan Y’wa(asal kata dari Yehuwa? Sebutan Tuhan bagi Israil), di setiap kampung ada imam yang namanya pasti Harun (Aaron- Imam pertama Bangsa Israil), memiliki puisi yang berkisah tentang penyeberangan laut (Musa a.s.).
E.        Chiang Min (Cina)
Bangsa ini percaya nenek moyang mereka berasal dari Barat, hanya punya satu Tuhan yang mereka sebut Yawei (Yehuwa). Para Imam harus pria yang sudah menikah (Im 21:7, 13), dan diwariskan secara turunan (seperti tradisi Yahudi).
Para Imam menggunakan jubah putih dan bersorban. Mezbah dibuat dari batu yang tidak dipotong dengan alat logam (Keluaran 20:25), dan tidak boleh didekati oleh orang asing dan orang cacat (Imamat 21:17-23). Para Imam menggunakan tali pengikat jubah dan tongkat kayu. Dalam upacara-upacara mereka mengibarkan 12 bendera sebagai lambang Ayah yang memiliki 12 anak (suku), wanitanya mengenakan kerudung, dan berlaku juga pernikahan ipar.
XII.                AL MASIH NABI YANG MENGEMBARA.
Demikianlah bahwa ke 10 suku Israil yang hilang telah bermigrasi berabad-abad lamanya ke negeri-negeri di Timur dan meskipun telah berasimilasi dengan suku, budaya, adat dan agama setempat namun jejak fisik tubuh, budaya dan agama Israil masih bisa ditemukan.
Kepada merekalah Nabi ‘Isa a.s (Yesus) meninggalkan Yerusalem, untuk memberikan petunjuk kepada domba-domba Israil yang hilang , dan memenuhi tugas kerasulan beliau.  Berjalan dari Barat ke Timur melintasi negeri-negeri.
Dalam Kitab Hadits Kanzul Ummal tertera, diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Allah telah mewahyukan kepada Nabi ‘Isa a.s. : “Wahai Isa, berpindah-pindahlah engkau dari suatu tempat ke tempat lain supaya jangan ada yang mengenali engkau lalu menyiksamu”
Diriwayatkan oleh Jabar:
“Nabi Isa a.s. senantiasa mengembara dari satu negeri ke negeri lain. Dan disuatu tempat bila malam tiba, beliau memakan beberapa tumbuhan hutan, serta meminum air bersih”.
Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Umar ra.:
“Yang paling dicintai oleh Allah adalah orang-orang yang gharib”. Ditanyakan kepada beliau (saw) apakah gharib itu? Apakah orang-orang seperti Nabi Isa a.s. yang melarikan diri dari negerinya dengan membawa Iman?
Gelar Al Masih sendiri artinya adalah:
Dia yang melakukan pengembaraan di negeri-negeri dan bagian-bagian dunia (Murtada Az Zabidi, Tajul ‘Uruus Jilid II).
Dia yang banyak melakukan perjalanan di muka bumi dalam rangka penghambaan kepada Allah dan tidak berdomisili di satu tempat saja (Muhammad bin Ahmad al Qurthubi).



XIII.               NAPAK TILAS PERJALANAN SUCI ‘ISA A.S. (YESUS).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa setelah sembuh dan bangkit dari pingsannya, beliau pergi ke Emmaus untuk menemui murud-muridnya, lalu menuju laut Tiberias (Yohanes 21:1). Dari Tiberias beliau pergi ke Damascus. Namun karena merasa tidak aman dari kerajaan Paulus atas perintah Ulama tinggi Yahudi (kisah 9:2) maka beiau pergi menuju Nasibain (Nasibis) di Siria. Turut serta dalam perjalanan adalah Ibunda beliau, Maria (Maryam), lalu murid-murid beliau yaitu Maria Magdalena dan Thomas (Didimus atau Ba’bad – yang kelak mengurus pemakaman Nabi Isa a.s.). Thomas sendiri wafat di India (kota Madras).
Dalam kitab sejarah Raudhatush Shafar dikisahkan dikisahkan bahwa Nabi ‘Isa a.s. pergi menuju Nasibain (Nisibis) untuk bertabligh, dan ahirnya Raja Nasibain beserta lasykarnya beriman kepada Nabi ‘Isa a.s.
Dari Nisibis beliau melanjutkan pengembaraan beliau melintasi wilayah Babylon (Irak), Sungai Euprat terus menuju Persia. Dalam sejarah, ada sebuah surat yang terkenal yang disebut “Creed of Eusebeus” yang diterjemahkan oleh Heinmer pada tahun 1650. Surat itu brisi undangan Raja Abgerus kepada Nabi ‘Isa a.s ke istananya dari seberang sungan Euprat. Hal ini membuktikan bahwa beliau melintasi Sungai Euprat menuju Persia.
Semoga pembaca yang masih belum dapat mehami hal ini untuk membuka fikirannya untuk melihat fakta-fakta sejarah ini bahwa Nabi ‘Isa a.s (Yesus) bukan pergi meninggalkan bumi menuju langit, namun pergi menuju negeri-negeri Timur untuk bertabligh kepada Suku-Suku Israil yang hilang. Dalam Al Kitab yang empat itu hanya Lukas dan Markus yang menceritakan kenaikan Yesus (‘Isa a.s) dan hal inipun saat ini kian meragukan keautentiknya oleh pada sarjana-sarjana Kristen. Banyak yang mengatakan bahwa perihal naiknya Yesus ke langit adalah tambahan yang dilakukan oleh Eristinc dikemudian hari.
Dalam buku Strans, Life of Jesus pada hal 1.750 tertulis:
“...ini benar, Ak Masih tidak mati di atas kayu salib, karena dia hanya tinggal sebentar saja di atas kayu salib itu. Darah yang keluar dari tubuhnya itu menunjukkan keraguan atas kematiannya". Maksudnya darah yang keluar dari tubuh beliau ketika ditusuk oleh tertara Romawi, dan itu menandakan jantungnya masih bekerja.
Nabi ‘Isa a.s. melakukan perjalanan tabligh beliau melintasi Media (Persia) lalu memasuki wilayah Afghanistan di mana beliau banyak menemui suku-suku Israil yang hilang. Selepas Afghanistan beliau melanjutkan perjalanan beliau memasuki Taxila (Hindustan Utara-Pakistan) dan bertemu Rajaa Gondhapares sekitar tahun 60 M (Acta Thomae, Ante Nicene Cristian Library, Vol XX 46) dari Taxila beliau menuju kota Murree, di kota inilah ibunda beliau Hz. Siti Mayam wafat dan dikuburkan. Orang-orang kota itu menyebut pusara Hz. Siti Maryam dengan nama Mai Mara da Asthan yang artinya tempat istirahat ibinda Maryam.
Dari kota Murree Nabi Yesus (‘Isa as) melanjutkan perjalanan menuju kota yang dikenal saat ini dengan nama AISH MUQAM (Aish berasal dari kata ‘Isa) yang terletak 70 km dari Srinagar. Selanjutnya beliau singgah di Srinagar Kashmir dan menetap di sana dan berkeluarga, suai dengan firman Allah dalam Al Qur’an Surat Ar Ra’ad ayat 38:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul sebelum engkau (wahai Muhammad) dan kami menjadikan bagi mereka mempunyai isteri dan ana-anak keturunan.....” (Ar Ra’ad 38). Beliau hidup di Srinagar Kashmir hingga akhir hayat beliau.
Sampainya Nabi Isa (Yesus) a.s. ke Kashmir terdapat dalam buku “The Heavenly hight snow peak of Kashmir” yang dimuat dalam “ASIAN MAGAZINE” pada bulanOktober 1930, ditulis bahwa Al Masih pasti pernah datang ke negeri ini, dan dia tidak mati di atas kayu salib. Kemudian dengan tegas ditunjukkannya pula kuburan “Al Masih” .
Dalam kitab Ikmaluddin yang ditulis lebih dari 10 abad yang lalu oleh Sheikh Al Sadiq (wafat tahun 962 M di Khorasan) pada halaman 359 ditulis:
“Nabi Yus Asaf (Yesus) telah banyak mengunjungi berbagai negeri, hingga ia sampai ke negeri ini, yang namanya Kashmir. Ia tetap tinggal di sini hingga ia wafat. Ia telah meninggalkan tubuh kasarnya, dan ruhnya berangkat kepada Nur. Sebelum ia wafat, ia telah memanggil seorang muridnya bernama Yabid (Thomas), yang selalu menghidmati dan mengikut kepadanya. Ia berwasiat kepadanya begini: “Saya hampir akan meninggalkan dunia ini dan saya akan diangkat ke alam baqa. Jagalah apa-apa kewajibanmu, jangan tergelincir daripada hak, dan kerjakanibadah. Ia suruh muridnya itu membuat sebuah rumah-rumahan di atas kuburnya. Sesudah berkata itu lalu ia berbaring, kepalanya ke arah Maghrib (barat) dan mukanya ke Masyrik (Timur), kemudian barulah nafasnya yang penghabisa dihembuskan”.
Bukti lain dari keberadaan Yesus (‘Isa a.s.) di Hindustan adalah ada pada kitab kuno berbahasa sanskerta yang berjudul Bhavishya Maha Purana yang ditulis oleh Sutta pada tahun 115 M. Dalam kitab ini diabadikan pertemuan antara Raja Shalewahin dengan Nabi ‘Isa (Yesus) a.s. di Wien (Srinagar Utara). Dikisahkan:
“Di negeri itu ia (Shalewahin) menampakka di Wien seorang raja saka, yang berkulit putih dan memakai baju putih. Dia (Shalewahin) bertanya siapakah ia. Jawabnya ialah ia Yusashaphat (Yus Asaf), dan dilahirkan oleh seorang dara, dan ia berkata bahwa ia mengatakan yang sebenarnya dan ia berkewajiban membersihkan agama.Raja itu bertanya apa agamanya. Ia menjawab: “Wahai Raja, kalau kebenaran telah lenyap dan tak ada pembatas di negeri Maleech, saya muncul di sana, dan karena pekerjaan saya maka yang bersalah dan jahat menderita, dan saya juga menderita karena tangan mereka”. Raja itu bertanya lagi apa agamanya. Ia menjawab “Agamaku untuk menimbulkan cinta, kebenaran, dan kesucian dalam hati dan karena itu saya disebut Isa Masih”. Raja itu pergi setelah memberikan penghormatan kepadanya”.  (Hal 1.282 Parwa (bab) III, Adhyaya II, Salok 9-31, dari terjemahan Inggeris oleh Dr. Widyavaridi Shiv Nath Shastri).
Menurut penduduk Kashmir, di Srinagar ada satu kuburan Nabi yang telah beribu tahun lamanya. Kata mereka, nabi itu namanya Yus Asaf, yang datang dari Barat, kira-kira 1900 tahun yang lalu. Kuburan ini terang-terang diakui orang banyak sebagai kuburan Nabi Sahib dan sebagian orang lagi mengatakan Kuburan Isa Sahib (sahib artinya Tuan).
Jadi jelas bahwa Nabi Yus Asaf ini tak lain adalah Yesus. Karena orang Kashmir menyebut orang ini Nabi, sedang kata Nabi adalah berasal dari kata dalam bahasa Arab dan Ibrani, Jika Nabi ini orang Hindustan maka dia akan dipanggil dengan Avatar, bukan Nabi.Lalu dikatakan bahwa Nabi ini datang dari Barat dan pada zaman yang sama dengan zaman ‘Isa (yesus) a.s, jadi ini membuktikan bahwa itu adalah Yesus. Kalau bukan Yesus siapa lagi? Karena antara Yesus (Isa a.s) dengan Muhammad saw tidak ada Nabi lain. Orang-orang Srinagar pun menyebut kuburan ini sebagai kuburan Isa sahib. Lafadz Yus dan Yesus adalah hampir sama bahkan tidak bisa dibedakan, sedang Asaf adalah nama beliau dalam Injil yang artinya “pengumpul” atau “penghimpun”. Kemudian Yus Asaf meninggalkan Kitab yang bernama Busyra (kabar gembira), jelas sama dengan Kitab Injil yang artinya juga khabar gembira. Prof. Dr. Hassnain (Arkeolog dan ahli sejarah India) dan juga Sir Francis Younghusband mengatakan bahwa Nabi Yus Asaf ini mengajarkan dengan tamsil-tamsil (perlambang-perlambang) seperti yang ada dalam Injil (Isa/ Yesus).
Demikianlah Nabi Yesus (Isa/ Yus Asaf) a.s. menunaikan kewajiban beliau, menunaikan amanat risalah beliau a.s. Beliau diselamatkan oleh Allah swt, dipanjangkan usia beliau (120 tahun), dan beliau berjalan jauh melintasi banyak negeri dari Barat ke Timur untuk menghimpun domba-domba Israil yang hilang. Beliau wafat dalam kemenangan, diangkat oleh Allah derajat beliau, dibersihkan nama beliau dari tuduhan terkutuk orang Israil,dibersihkan nama beliau dari itikad musyrik umak Nasrani, dan dibersihkan nama beliau dari pemaham syirik sebagai manusia yang hidup di langit dengan jasadnya.
“Dan telah kami jadikan ‘Isa putra Maryam beserta ibunya suatu bukti nyata bagi (kekuasaan Kami), dan kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir “(Al Mukminun 50).
Di kawasan pegunungan dan lembah Srinagar Kashmir yang hijau, subur, dan banyak terdapat sumber-sumber air, Allah telah menempatkan Isa bersama ibunya dan melindungi mereka hingga akhir hayat, ditengah-tengah kaum yang menerima mereka. Allahu Akbar! Tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, Yang maha kuasa dan Maha melindungi.
XIV.              AL QUR’AN BERBICARA MENGENAI ‘ISA A.S (YESUS) TELAH WAFAT.

A.       Surat Al Maaidah 117.
Dalam Rangkaian ayat Al qur’an yang menceritakan tentang hari pengadilan di Akhirat, dimana setelah Allah bertanya kepada pada Nabi tentang  1. Siapa yang kalian sembah dan 2. Bagaimana respon umat /kaumnya  terhadap seruan mereka. Lantas Allah menanyakan kepada ‘Isa a.s bahwa apakah beliau yang memerintahkan kepada manusia agar menyembah beliau dan ibu beliau sebagai dua Tuhan selain Allah? Maka beliau membantah hal tersebut. Beliau mengatakan sebagaimana firman Allah:
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian, dan adalah aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau MEWAFATKAN aku, Engkaulah pengawas atas mereka. Dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu’.”
Ayat di atas menjadi bukti bahwa semasa hidupnya beliau (Nabi ‘Isa a.s.) selalu mengajarkan Tauhid, dan beliau menjadi saksi dan pengawas atas penegakan Tauhid di antara pengikut beliau. Namun ketika beliau telah wafat maka atas segala penyimpangan yang dilakukan oleh umatnya bukan lagi menjadi tanggung jawab beliau. Dan selalu beliau menyerahkan kepada Sang Pencipta yaitu Allah yang Maha menyaksikan.
Jadi jika beliau saat ini masih hidup di suatu tempat, sedang di dunia meraja lela aqidah trinitas maka tidak ada yang lebih patut dipersalahkan selain’Isa a.s. karena sebagaimana perkataan beliau bahwa beliaulah yang menjadi saksi dan penjaga atas umatnya untuk tetap mengikuti Tauhd.
Jadi dengan menyimpangnya umat beliau dari ketauhidan itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa beliau telah wafat, karena beliau tidaklah lagi menjadi saksi dan penjaga atas mereka. Dan beliau suci dari timbulnya aqidah trinitas.
Tafsir Surat Al Maaidah 117 ini ada dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abbas ra:
“Rasulullah ssaw bersabda: ‘di hari kiamat kelak bakal ada beberapa orang yang akan di tarik ke api neraka maka aku (Muhammad saw) akan berkata :mereka adalah sahabat-sahabatku, diwaktu itu aku mendapat jawaban, engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat setelah engkau mati, lalu akan aku berkata seperti hamba Allah yang sholeh (‘Isa ibnu Maryam) itu berkata: “dan adalah saya menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, maka mana kala Engkau matikan saya, adalah Engkau yang menjaga mereka”.
Jadi atas dasar tafsir Surat Al Maaidah 117 menyangkut ‘Isa a.s. dalam hadist Bukhari Kitabuttafsir, bahwa sebagaimana Muhammad saw telah wafat dan tidak lagi menjadi saksi/ penjaga atas umatnya. Maka demikian pula ‘Isa a.s telah wafat dan tidak lagi menjadi saksi /penjaga atas umatnya.
Sebagai tambahan, dalam Kitab Hadis Kanzul Umal Jilid XI hal 479 , Fatimah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya ‘Isa ibnu Maryam usianya 120 tahun”.
B.       Surat Ali ‘Imra 55.
“Ingatlah ketika Allah berfirman: “Wahai ‘Isa sesungguhnya Aku mewafatkan engkau dan akan meninggikan derajad engkau di sisi KU dan akan membersihkan engkau dari orang-orang kafir ......”
Perlu diperhatikan kronologis ayat ini:
1.       Diwafatkan (dimatikan), mutawaffi (inni mutawaffika)
2.       Ditinggikan (diangkat), raafi’u (warofi’uka ilayya).
3.       Dibersihkan (disucikan), muthahhiru (wamuthahhiruka)
Kronologis ayat ini tidak boleh di bolak-balik.
Umat Kristen mengatakan bahwa ‘Isa diangkat ke langit, namun sebelumnya Isa wafat di atas kayu salib lalu hidup lagi. Aqidah ini salah, karena pada ayat ini tidak dikatakan bahwa sebelum beliau diangkat beliau hidup lagi. Lagi pula Yesus (Isa.as) tidak wafat di tiang salib melainkan hanya pingsan saja.
Sementara itu kebanyakan umat Islam percaya bahwa beliau diangkat dan kini hidup di langit bersama jasad kasarnya, kalau begitu yang sekarang ada di langit adalah jenazah Nabi ‘Isa, karena beliau diwafatkan dulu baru diangkat. Kalau ada yang mengatakan bahwa yang diangkat ke langit itu ‘Isa a.s yang dalam keadaan hidup maka konsekuensinya harus berani menganggap point 1 pada ayat tersebut tidak ada. Lalu sanggupkah menganggap (mengoreksi) ayat tersebut sebagai firman Allah?.
Kemudian dalam ayat itu tidak ada kata langit, jadi dari mana asalnya pemahaman bahwa Nabi ‘Isa a.s naik kelangit? Dalam Tafsir Al Azhar oleh HAMKA , beliau menulis bahwa ajaran ini adalah ajaran Nasrani yang disusupkan ke dalam Islam.
Jadi yang benar, Allah Ta’ala telah mewafatkan Nabi ‘Isa a.s secara wajar (alami), dan kemudian Allah meninggikan (mengangkat) derajad beliau (bukan jasmani). Perhatikan penggunaan kata Rafa pada Surat 12: 76 ; surat 24:36 dan surat 58:11, seluruhnya menunjukkan mengangkat secara maknawi (derajat) dan bukan jasmaniyah. Haji Zainuddin Hamidy dan Fakhruddin dalam terjemahan Al Qur’an nya pun (terbitan CV. Jayamurni-Jakarta) mengartikan dengan “dimuliakan”. Inilah juga makna Rofa’ahu yang ada dalam Surat Annisa 158, yaitu beliau diangkat dan dimuliakan derajat beliau a.s dan bukan terangkat (terbang jasmaninya) menuju langit.
C.       Surat Maryam 31.
“...Dia memerintahkan kepadaku mendirikan sholat, menunaikan zakat selama aku hidup.”
Nabi adalah suri tauladan, segala amal idabadah yang diperintahkan Allah pasti akan dijalankan dan untuk tarbiyah ummat maka dia akan memeragakan agamanya sebagai suri tauladan untuk ummatnya tentunya selama Nabi itu hidup. Jadi adakah seseorang yang bisa melihat Nabi Isa a.s masih membayar zakat atau adakah yang merasa menerima zakat dari beliau? Atau adakah yang melihat beliau melakukan sholat? Kenapa pertanyaan ini muncul adalah karena sebagai konsekuensi orang yang masih hidup melakuan perintah Allah antara lain sholat dan bayar zakat.
D.       Surat Ali ‘Imran 81.
“Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian daripara Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Al Kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu niscaya kamu akan sunguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: ‘apakah kalian mau mengambil dan mengakui perjanjianKu terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab:”Kami mengakui”. Allah berfirman: “Maka saksikanlah bahwa Akupun bersaksi pula bersama-sama kalian”.
Dr Haji Abdulkarim Amrullah dalam bukunya “Qaulush Shahih” menulis: “Pemandangan ayat ini, katanya, ‘annabiyyina’ yang berarti segala nabi-nabi, nyata benar meliputi Adam a.s sampai kepada ‘Isa a.s sama sekali (semuanya) berjanji kepada Tuhan, akan mengikuti Muhammad dan akan percaya serta menolong dia”.
Doktor itu juga menulis: “Bacalah hadts ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari yang sama maksudnya dengan firman Allah yang tersebut pada fasal yang pertama surat Ali ‘Imran tadi:
“Tidaklah Allah membangkitkan (mengutus) seorang Nabi juapun melainkan Allah mengambil perjanjian teguh atasnya demi sesungguhnya jika dibangkitkan Muhammad saw sedang nabi yang lain itu masih hidup, bahwa mestilah mereka beriman kepada Muhammad dan menolong akan dia pada menjalankan agamanya Muhammad”.
“Jadi apa sebabnya sudah lebih dari 1300 tahun (sekarang 1435 tahun-pen) Isa belum juga bangkit menolong Muhammad kalau sebenarnya beliau masih hidup? Mustahil Nabi ‘Isa a.s tak menepati janjinya dengan Allah dalam masa yang selama itu. Dan mustahil juga ia lalai daripada kewajibannya di dalam sedikit masa pun apalagi lebih dari 1300 (1435) tahun!” Demikian tulisan ayahanda Prof. HAMKA . Jadi memang Nabi ‘Isa a.s telah wafat.
E.        Surat Al Maaidah 75.
“Al Masih ibnu Maryam tidak lain melainkan seorang rasul, sesungguhnya telah berlalu (Qad Khalat) rasul-rasul (semuanya) sebelumnya”.
Kita semua sepakat bahwa sebelum Isa a.s. semua rasul-rasul telah wafat . Sekarang mari kita menuju ayat yang lain yang semakna.
“Tidak lain Muhammad itu kecuali seorang rasul, dan telah berlalu (qad khalat) sebelumnya rasul-rasul (semuanya)”. (Ali Imran:144)
Berarti kita juga sepakat bahwa sebelum Rasulullah Muhammad saw diutus maka telah wafat seluruhnya. Perlu difahami bahwa arti kata “Qad khalat” tidak ada lain kecuali telah wafat/mati. Silahkan juga baca Tafsir Al Furqan oleh A Hassan, Guru pesantren Islam dalam Tafsir Al Ahqaf 17. Sedangkan H Zainuddin Hamidi dkk mengartikan dalam terjemahan Qur’annya sebagai “yang telah lewat dan tiada akan kembali lagi”.
Ayat 144 Surat Ali Imran inilah yang dibaca oleh Abu Bakar ra pada waktu wafatnya Rasulullah Muhammad saw untuk menenangkan Umar ra, bahwa sebagaimana Rasul-rasul terdahulu, telah wafat, maka hal demikian juga berlaku pada diri Rasulullah saw. Tentunya jika Nabi Isa a.s masih hidup, seperti yang diyakini umat Islam kebanyakan saat ini, tentunya akan ada perdebatan sengit antara Umar ra dan para sahabat yang sedang berduka dengan Abu Bakar ra. Tetapi kenyataannya Umar ra tidak membantah.
IV. AL KITAB MENGENAI WAFATNYA YESUS .
A.       Matius 23:39.
“Yesus bersabda: “Karena aku berkata kepadamu, bahwa daripada masa ini tiada lagi kamu melihat aku, sehingga kamu berkata: Mubaraklah ia yang akan datang dengan nama Tuhan”.
Dari ayat Al kitab di atas jelaslah bahwa dunia tidak akan melihat Isa Ibnu Maryam (Yesus) lagi, dan Yesus tidak memberi kabar akan kedatangannya yang kedua kali ke dunia. Artinya beliau akan wafat dan ruhnya pergi menuju Bapa (Allah) dan tiada kembali lagi.
Dalam Dalam ayat Matius 23:39 di atas terdapat nubuatan mengenai kedatangan seorang Nabi setelah wafatnya beliau (Isa /Yesus a.s) yang mana ciri dari Nabi itu adalah datang dengan Nama Tuhan. Kalau kita gabungkan ayat Matius 23:39 ini dengan Kitab Ulangan 18:17-22 yang antara lain disebutkan:
“Segala firmanKu yang akan dikatakan olehnya dengan namaKu”.
Siapakah Nabi yang akan datang setelah wafatnya Isa a.s ini? Yang dalam kedatangannya dan firman-firmannya disebut dengan nama Tuhan? Dialah Muhammad saw, yang mana di dalam kitab yang diturunkan kepadanya selalu di awali: “Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah dan maha Penyayang”. Dalam setiap Surah-SurahNya.
Namun tahukah anda bagaimana umat Kristiani berhujah menolak Muhammad saw? Karena diantara mereka ada yang bertanya kepada kaum Muslimin: “Apakah ‘Isa telah wafat?” Umat Islam menjawab: “Belum, beliau masih hidup”. Umat Kristiani menimpali lagi :” Kalau begitu Muhammad itu siapa? Karena menurut Matius 23:39 dikatakan bahwa syarat Nabi yang akan datang itu adalah manakala Isa telah wafat. Jadi pendirian sebagian umat Islam sama dengan kami yaitu Isa belum wafat. Jadi belum saatnya Nabi itu datang.
B.       Kitab Kejadian 6:3.
“Firma Tuhan: “Bahwa roh ku tiada akan berbantah-bantah selama-lamanya dengan manusia, karena hawa nafsu jua adanya, melainkan tinggal lagi panjang umurnya 120 tahun”.
Hal ini senada dengan apa yang terdapat dalam Kitab Hadis Kanzul Umal Jilid XI hal 479, Fatimah r.a menerangkan Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Isa ibnu Maryam usianya 120 tahun”.
Jadi beliau tidak wafat pada umur 33 tahun, tidak juga dalam usia sekian-sekian tahun, tidak juga masih hidup , melainkan beliau telah wafat pada usia 120 tahun.

------------------------------------------------------------

Komentar